bendera sudah ditancapkan pada bilur-bilur dosa
----yang lain keukeuh menyebut taubatan nasuha
melambai-lambai dihujani semilir senja
yang bergerak menuju arah matahari tenggelam
----sementara malam sibuk merias alisnya yang kini dipertebal beberapa centi
senja ramadhan, ada di wajah-wajah yang ramai
dibicarakan di multi forum
----bahkan televisi telah menyiapkan beragam agenda berbaju syariah
senja ramadhan adalah harga
:yang mana tausiyah pak ustaz menjadi berlipat rupiah
:yang mana sembako merangkak pelan-pelan memenuhi garis inflasi
:yang mana penebusan dosa dari 11 masa yang telah seenaknya berlalu
:yang mana sifat rakus hanya dihalalkan saat Maghrib tiba
ini adalah nyanyi
sekaligus nyinya
namun segeralah bergembira
bila dan jika usiamu kembali bertemu
juga tak ada garansi
nyanyi dan nyinya ini
di edisi mendatang
bernyanyilah!
bernyinyalah!
Ramadhan mubarak...
(Prambon, 16 Juni 2015)
Menu
Selasa, 16 Juni 2015
Nyanyi dan Nyinya Menjelang Ramadhan
Bulik Romlah
Sebelum aku meninggalkan kampung kelahiranku, barang sejenak kuhirup
udara siang itu. Udara yang sejuk. Aku pasti mengingatnya. Kehidupan
selalu menampilkan cara-cara yang susah ditebak. harusnya aku masih di
sini. Bersama bapak dan ibu. Bersekolah. Membantu Ibu jualan. Membantu
bapak di ladang. Namun, roda zaman berputar dengan cepatnya. Putarannya
kini melindas keluargaku. Setelah Bapak, kini Ibuku yang berjumpa dengan
Allah. Dari piatu menjadi yatim piatu. Sebatang kara. Usiaku beberapa
hari lagi menginjak 14 tahun. Kini, setelah kesedihan dan kenangan mampu
kuredam, saatnya aku akan mencari pengalaman baru. Ke Surabaya. Bekerja
bareng bulik Romlah. Entah bekerja apa, yang penting hidupku yang
masih segini ini tak boleh sia-sia.
Kami berangkat. Naik ojek
dari desa. Bukan tukang ojek asli, tapi tetangga yang diminta antar ke
terminal. Tentu saja tidak gratis. Lagian siapa mau kalau gratis. Zaman
seperti ini, sekekeluargaan model manapun, rupiah tetaplah
diperhitungkan. Aku bersama Lek Satino. Bulik Romlah dengan Cak Sadi.
kami berjalan beriringan. melintasi jurang cukup curam. Melewati balai
desa. Melewati sekolah SDku. Sampai kemudian kami telah melewati
perbatasan desa. Tak kurasa, air mataku rontok. Bepergian jauh, memang
tak pernah teradi padaku. Sampai 14 tahun usiaku, paling jauh ya ke
pasar Lumajang. Itupun bersama Ibu. maka peristiwa hari itu menjadi yang
melodramatis. Ketika sampai di terminal, aku sibuk meneringkan air
mata.
"kamu menangis Parti?" suara bulik memcacah telingaku,
Keibuan. Aku hanya diam saja. Menenteng tas menuju ruang tunggu.
Sebenarnya bukan ruang tunggu yang sempurna. kami tak masuk ke terminal.
Terminal Minak Koncar merupakan terminal kecil. Penumpang kebanyakan
menunggu di pintu ke luar. bahkan bus yang datang dari arah Jember,
jarang juga yang masuk terminal. Ini berbeda dengan bus dari arah
Surabaya yang selalu atau sebagian besar masuk terminal. Di bus aku
lebih banyak diam. Tidur. maklum, pengalaman pertama. Mualnya minta
ampun. Pusing. beberapa kali mulutku mengeluarkan cairan. Aku mabuk
darat. Bulik menggosok perut dan leherku dengan minyak angin. Biar
hangat katanya. Sepanjang perjalanan aku hanya tidur. Mual.
--------------------------------------
Saat mata ku buka, warna hitam legam berpendar. Sekujur tubuhnya terasa
ngilu. Kepalaku, tanganku, kakiku, badan. Beberapa saat pandangan hitam
menjadi ambyar. Perlahan warna itu memudar.
"Dok, dia sadar" suara
perempuan. Tiba-tiba bayangan bulik Romlah menguat. Saat mataku sudah
benar-benar berfungsi, kudapati diriku berada di sebuah ruang yang mirip
rumah sakit. Tidak salah, ini memang rumah sakit. Ruangan ini dipenuhi
oleh banyak orang. Kulihat ada yang sesenggukan. Menangis. Berteriak.
Aku baru sadar, aku tak mengenakan baju lurik peninggalan Ibu lagi. Baju
baru, mirip baju Lek Sudar saat akan operasi dulu. Pikiranku merancau.
bayanga Bulik melintas. Sangat dekat.
"Adik, badannya masih sakit?" lelaki berbahu putih menanyaiku sembari tersenyum.
"Ini berapa?" sambil mengacungkan dua jari.
"tiga" kataku lemah.
"Adik istirahat dulu ya. nanti akan saya cek lagi." tanpa menunggu
perimbanganku, lelaki senyum indah itu beranjak meninggalkanku.
Menjumpai beberapa orang yang terbaring di sebelahku.
"Bus yang mbak
tumpangi kecelakaan. Menabrak sebuah truk besar." seorang perempuan
memberitahuku. Informasi ini telak menghujam ke tubuhku yang sudah keok.
Kejadian itu, masih terus membekas di ingatan. Bulik Romlah
menjadi korban meninggal, bersama hampir separuh penumpang lainnya. Saat
kesehatanku mulai pulih, tak kudapati Bulik. Menurut salah satu
perawat, korban meninggal sudah dikirim ke alamat sesuai KTP. Saat itu,
aku lebih memilih meninggalkan rumah sakit tempatku di rawat diam-diam.
Tak terbersit keinginan untuk kembali. Kemana kaki melangkah, ke situlah
tubuhku mengikuti. Anak perempuan desa, yang tak punya pengalaman sama
sekali, berkeliaran di kota sendirian. Di sebuah jembatan, masih ingat
dalam kepala, tubuhku dikeroyok oleh dua lelaki muda. Digerayangi
seluruh tubuhku. Baju dan celanaku dilucuti. Aku hanya bisa menangis.
Dua lelaki itu semakin beringas saja. Sampai kemudian, sebuah teriakan
dan suara berdebum membuat dua lelaki yang menindihku terlempar.
Pahlawan yang menolongku, membawaku. menjauhi tempat itu. Merawat
luka-lukaku. Sehingga suatu saat, dia juga meniduriku.
Berkali-kali.Berulang-ulang.
(21/2/2014/ruang kerja)
Tak Ada Suara
Aku memasuki pelataran rutan. Mengikuti aturan kunjungan.
Menyerahkan KTP. Lalu menunggu antrean. Ketika giliran, kami masuk pintu
terali itu. Diperiksa seluruh tubuh. Untuk wanita, pemeriksaan oleh
sipir wanita. Disediakan kelambu. Lalu diraba-rabalah tubuhku.
"Dompetnya silakan dikeluarkan" Aku nurut saja. Setelah digeledah, aku
melangkah menuju pintu berikutnya. Giliran tanganku kena stempel. Lalu
melenggang menuju kerumunan penghuni lapas dan tamunya.
"Sarno.."
suara itu berasal dari arah kiri. Kulihat tangannya melambai-lambai. Aku
terhenyak. Wajahnya tidak berubah. Oh tidak, jenggot dan kumisnya
tampak lebih lebat. Rambut gondrongnya berubah polos, botak.
Aku
duduk di tengah kerumunan orang. Duduk di hamparan karpet. Para napi
kompak memakai kaos biru. Sehingga akan nampak beda antara pembesuk dan
mereka. Waktu yang diberikan untuk bercakap tidaklah lama, sekitar 30
menit. Karena di luar sudah berjejal pembesuk gelombang berikutnya.
"Aku ada kabar buatmu."
"Ah, tidak usah kamu berkabarlah. Aku sudah tahu semuanya." Bagiyo
menghembuskan napas panjang. Di matanya, terpancar keputus asaan akut.
"Ini tentang istrimu. Mirnah. Dia.." lidahku kelu.
"Sudahlah Sarno. Biar aku di kerangkeng jeruji besi, tapi informasi secuil apapun dari Mirna ku ketahui"
"Mungkin. Tapi, ini bukan yang santer beredar lho ya. Mirna tidak hanya
melacur, tetapi kini ia menjalin hubungan dengan mertuanya. Bapak.."
Kulihat mata Bagiyo nyalang. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya
mengepal. Ia menatapku tajam.
"Biadab." desisnya. Nadanya ditekan sedemikian rupa.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Perintahkan Sutali untuk memberi pelajaran pada dua manusia bejat
itu." kali ini nadanya tak bisa di kontrol. Rupanya ini membuat seorang
sipir mendekat. Persis, jam kunjung telah habis.
------------------------------
Meski Subagyo dibui hampir dua tahun, tetapi ketua komplotan kakap
perampok ini masih bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Termasuk
mengondisikan anak buahnya untuk terus bekerja. Dia ditangkap saat
menjarah rumah kapolsek Mojokitir. Saat itu empat orang berhasil
diringkus. Bagiyo mendapat dua tembakan di kedua kakinya. Lalu keluarlah
vonis, delapan tahun kurungan. Saat ini memasuki tahun kedua. Sementara
keluarganya kini cerai berai. Istrinya melacur. Bahkan, mertuanya
sendiri diembat. Entahlah, siapa yang lebih dulu memulai. Berita itu
tiba tiba menyebar begitu saja. Pergunjingan semakin deras saja.
"Sarno.." aku menoleh ke belakang. Sutali dan beberapa kawannya berjalan ke arahku. kebetulan yang sangat ditunggu.
Aku ceritakan semua kepada Sutali. Lelaki kerempeng itu manggut-manggut.
"Apa rencanamu?" tanyaku padanya. Dia menatapku dengan dingin.
"Rencanaku adalah rencanaku. Kamu tak berhak tahu" jawabnya ketus. Ada
rasa khawatir menyelinap di dalam hati. Apakah ini berarti Mirna akan
dibunuh, atau mertuanya. Mungkin keduanya. Ah, atau atau lainnya. Saat
hendak membuka suara, tak terlihat lagi Sutali. Aku celingukan.
begundal-begundal itu seperti ditelan bumi. Kuputuskan untuk ke rumah
Mirna. Siapa tahu, Sutali menuju ke sana. Aku merutuki kebodohanku yang
ceroboh.
Rumah Mirna, atau bisa juga disebut rumah Bagiyo
sepi-sepi saja. Tak ada kegaduhan. Kucoba untuk mengitari rumah bambu
itu. Di bagian belakang, aku mengendap di antara phon-pohon sengon yang
cukup rimbun. Sebagai ketua geng bajingan, rasanya tak elok jika rumah
bagiyo masih seperti ini. Dia bahkan bisa membangun istana di desa ini.
Tapi itu tak dilakukannya. Uang hasil anunya, lebih banyak dihamburkan
untuk hal-hal yang sama sekali tak memberi imbalan untuk masa depan.
Hah, tapi mungkin inilah konskuensi uang haram. Selalu ada cara untuk
cepat habis dan sama sekali tak berguna. Kadang-kadang, aku tak habis
pikir dengan sikap keluargaku. Subagyo, kakakku, menjadi bajingan
tengik. Meneruskan kuasa bapak yang pensiun. Sementara aku,
terombang-ambing tidak jelas, Tak pernah punya kuasa sedikitpun.
Bajingan tidak, malaikat juga bukan. Abu-abu. Segera kubuang
pikiran-pikiran itu saat merapat ke bagian belakang rumah Mirna. Sama
saja, tak ada suara. Senyap. Saat hendak pergi, kucuri pandang dari
lubang didinding bambu belakang. Sutali telanjang, bersama rekannya.
Juga ada bapak, Mirna. Semua telanjang. Tak ada suara.
(Prambon, 18 Februari 2015)
Neraka
Masih pagi. Rudianto sudah dua kali tangannya menghajar pipi
istrinya. Rukmini, anak semata wayangnya, menjerit jerit. Ibunya hanya
mampu bersimpuh dilantai. Memegangi kedua pipinya. Air matanya
membanjir.
"Aku ini suamimu Ni. Kalau ndak boleh, ya nurut saja. Apa
susahnya. Cukup aku yang bekerja. Kamu di rumah saja. Rawat Rukmini
baik baik."
Menampar istri, barangkali perbuatan biadab. Rudianto memahami itu. Selama ini, tak pernah ia menggampar istrinya. Maka, siang itu pikirannya dibalut kegelisahan. Ingin sekali pulang dan menjelaskan banyak hal pada Marni. Meski kemudian ia tahu, istrinya akan tetap kukuh dengan kebenaran yang dipegangnya sendiri. Diam diam, ia mulai menyalahkan diri sendiri. Harusnya, sebagai kepala keluarga ia dapat membuat istrinya bahagia.
----------------------
"Kamu serius?"
aku tergagap.
"Sudahlah, jangan bimbang. Imbalannya lebih besar dari pada gajimu saat ini. Kamu harus rapi, cermat, dan jenius" Sahabatku ini telah menawariku sejak beberapa bulan lalu. Namun dengan dalih macam macam aku halus menolaknya. Saat ini aku butuh duit untuk keluargaku. Tak ingin lihat Marni bekerja. Biar cukup saja aku yang bekerja.
Aku keluar dari rumah itu dengan perasaan berbeda. Resmi sudah aku jadi kriminal. Mulai hari ini dan entah sampai kapan. Sebagai pengedar obat obatan terlarang, petualanganku akan segera dimulai. Wajah Marni membayang di kepala. Sesaat kemudian Rukminiku tersenyum ringkih di pelupuk mata. Dalam hati banyak kugelar untuk kemakmuran keluargaku. Setidaknya aku bersiap masuk neraka.
(Krian, 12 Februari 2015)
Senin, 15 Juni 2015
Sempurna
“Apa maksudmu Goni?”
Laki-laki yang dipanggil Goni tertawa keras. Tubuhnya berguncang-guncang hebat. Dari mulutnya, air liurnya mirip air terjun. Terjun bebas menuju bumi. Setelah tawanya reda ia kembali menggulirkan perbincangan.
“Ketauilah Bud. Aku telah membunuh Margan. Tepat ketika suaramu melantun di mushola tadi sore.” Budiman terlonjak dari tempat duduknya.
“Aku telah menyumpal mulutnya selamanya”
“Apa maksudmu Gon? Aku tak paham?” Budiman bergetar suaranya.
“Ku pikir orang seperti kamu sudah jauh mengerti dengan apa yang barusan kuucapkan. Kamu senang bukan?” Goni tertawa lagi. Suaranya memecah kehingan malam itu.
“Gila, bagaimana kamu bisa..”
“Itu terlalu gampil buatku. Reputasiku dalam hal beginian tak perlu kau ragukan.”
“Lalu..?”
“Budimanan budiman. Seharusnya kamu paham. Aku mengerjakan semuanya untuk memuluskan rencanamu.”
“Tapi aku tak menyuruh” suara yang keluar dari mulut Budiman masih bergetar.
“Pada orang lain kamu bisa berbohong kawan. Tapi jangan harap bisa melakukan itu padaku.” Suara Gogon kini lebih pelan. Ada penekanan disetiap kata yang diucapkannya.
Budiman diam. Ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika mayat Margan ditemukan, pastilah gempar kampungnya. Sebagai satu-satunya pesaing kuat di pilihan kepala desa tahun ini, pastilah kecurigaan padanya akan muncul dengan sendirinya.
“Kamu sembrono Gon. Bagaimana kalau mereka menuduhku terlibat dalam pembunuhan. Risikonya besar.” Kali ini terselip kemarahan yang ditekan sedemikian rupa.
Goni memandang lurus ke depan. Sama sekali tak berubah wajahnya. Ia tetap tenang seperti mulanya. Kedua lelaki itu sama-sama diam.
“Sudahlah, semua sudah terjadi. Kamu atur yang baik” suara lunak Budiman mengakhiri pertemuan malam itu.
***
Hari itu kampung Budiman geger. Calon kepala desa, Margan, ditemukan tak berdaya di pinggir hutan oleh seorang pemburu. Bukan sekadar tak berdaya, tapi juga sudah tak bernyawa. Polsek setempat langsung menangani evakuasi jenazah. Sementara isu penyebab kematian masih simpang siur. Pihak keluarga nampaknya menginginkan almarhum untuk segera dikebumikan. Urusan ini itu tampaknya dikesampingkan. Untuk sementara semua warga fokus pada prosesi penguburan jenazah. Termasuk juga Budiman nampak di kerumunan warga.
Ternyata yang menghadiri pemakaman luar biasa banyaknya. Mungkin karena almarhum dikenal sebagai pribadi yang baik, atau di sisi lain rasa keingintahuan warga yang membuat pelayat meledak jumlahnya. Setelah pemakaman, kelurga minta bantuan polisi untuk menyelidiki kematian Margan. Istrinya, terus-terusan menangis. Kakak Margan menjadi juru bicara kali itu.
“Kami pikir Pak, ini harus diusut sampai tuntas. Supaya tak ada prasangka yang macam-macam.” Sementara polisi melakukan invetigasi, isu penyebab meninggalnya calon lurah menggelinding di akar rumput. Setiap orang membicarakannya, tak peduli waktu. Dugaan-dugaan bermunculan. Tapi seperti yang ditakutkan Budiman, muncul juga. Ada sebagian kelompok warga yang mengatasnamakan pendukung garis keras menudingnya pelaku di balik kekejian itu. Mereka beralasan, kerap kali sejauh ini keduanya sering bertikai. Apalagi sebentar lagi keduanya akan bertarung di ajang pilkades.
Perang dingin opini sudah digulirkan. Loyalis Budiman tentu tak menerima apa yang lawannya tuduhkan pada jagoannya. Mula-mula lewat saling serang pendapat. Tak jarang berdebat. Hingga kemudian kontak fisik. Tepatnya tiga hari pasca meninggalnya Margan. Baku hantam tersebut terjadi malam hari di sebuah tanah lapang yang jauh dari rumah penduduk. Keduanya benar-benar menyiapkan segala sesuatunya. Batu, panah, pentungan, mercon. Suara lengkingan jerit semangat dan kesakitan membakar malam itu. Tak pelak, kegaduhan tersebut memancing penduduk untuk merapat ke lokasi. Pada puncaknya, anggota polsek memberikan tembakan peringatan.
Kondisi malam hari yang gulita menyulitkan pihak kepolisian untuk mengamankan pihak bertikai. Karena begitu suara tembakan berbunyi, kedua loyalis langsung mengambil langkah seribu. Begitulah terjadi beberapa kali di hari selanjutnya. Sehingga pemuka desa segera mengambil sikap atas kerusuhan yang terjadi. Sambil menunggu penyelidikan polisi selesai.
“Pertemuan kali ini amatlah penting untuk dilaksanakan. Keadaan sudah darurat.” Budiman mengawali pidatonya di balai kelurahan. Sore itu, para pemuka desa hadir.
“Sepenuhnya kami serahkan untuk eyang Subur untuk mulai.” Budiman mengambil duduk di depan bersama pinisepuh.
“Saudaraku” Suara eyang Subur sedemikian berat. Ada keprihatinan yang tampaknya menggerogoti tubuh rentanya.
“Ini baru pertama, terjadi pembunuhan di kampung yang kita cintai ini. Tidak tanggung, korban kali ini merupakan calon lurah. Sehingga sampai sejauh ini, di beberapa tempat kerap terjadi kerusuhan. Terjadi anarkis. Sebagai orang yang sudah bau tanah seperti saya, prihatin sekali lihat kejadian semacam ini.” Terdiam sejenak. Eyang Subur menghirup napas panjang,lalu mengeluarkan perlahan. Lelaki renta ini amat dihormati. Hanya ia yang masih hidup, dari beberapa orang yang turut babat alas kampung Dongus.
“Ini negara hukum. Sudah sewajar dan seharusnya kita taat hukum. Biarkan polisi yang menyelidiki. Bukan malah main pukul dan hajar. Kalau apa yang beberapa hari ini kita biarkan, bukan tidak mungkin akan pecah perang saudara.” Berhenti sejenak memandangi warga yang turut serta dalam rapat darurat tersebut.”
“Eyang jangan banyak berkhotbah. Apa solusinya?” suara keras muncul dari arah paling belakang. Semua mata melahap pemuda itu.
“Masalah tak akan kelar kalau Cuma khotbah saja. Mari kita bergerak” tangannya mengepal. Semua yang hadir langsung ribut. Eyang Subur yang bergetar menahan amarah, hanya bisa mengatupkan mulutnya. Sorot matanya yang dulu garang, kini tak lagi kelihatan magisnya.
“Saudaraku, tolong hormati Eyang.” Budiman berdiri. Suaranya keras. Menggelegar. Sontan, yang hadir diam.
“Saya tahu ini negara demokrasi. Semua bebas berpendapat. Bebas nggacor. Tapi ingat, jaga tata krama. Eyang ini panutan kita”
“Hai pembunuh. Diam kamu. Seharusnya kamu yang dibakar hidup-hidup.” Pemuda itu makin beringas. Mata nyalangnya melahap habis Budiman.
Beberapa warga yang dekat dengan Budiman, langsung siaga. Dengan cekatan berdiri dan memberi bertubi-tubi tinju ke wajah pemuda itu. Pemuda itu melawan. Yang lain sepertinya tak mau kalah. Pertemuan untuk mencari mufakat itu berubah menjadi arena adu jotos.
Budiman memapah Eyang Subur meninggalkan balai desa. Sementara baku hantam masih berlanjut. Hingar bingar itu membuat warga yang mendekam di rumah masing-masing menjadi penasaran. Tak berselang lama, balai desa itu sudah dipenuhi warga. Melihat sanak keluarganya bonyok, menyulut anggota keluarganya turun tangan. Demikianlah, perkelahian bukan semakin reda, tetapi selebihnya semakin menjadi.
Sementara itu, Budiman membawa Eyang Subur menjauh dari arena adu jotos. Baginya, tak ada yang lebih penting daripada nyawa tetua kampung tersebut. Karena dengan menyelamatkan Eyang Subur, dirinya akan menjadi pahlawan. Jalan kemenangan untuk menjadi kepala desa kian terbuka.
“Eyang harus bertahan” tubuh renta itu semakin dingin saja. Budiman memanggulnya dengan bersemangat sekali. Ia sama sekali tidak tahu, di depan sana Goni telah menyiapkan rencana yang amat sempurna.
(Markas Pribadi-Prambon, 3/5/15)
Menangis
Kepalaku baru saja meledak. Meja ruang tamu, kubanting. Kursi,
televisi, setrika, juga turut serta. Sudah sejak lama ini, kusimpan
masalah demi masalah dengan hati-hati. Sejujurnya, aku benci pertikaian.
Namun, dinding kesabaranku sepertinya jebol. Aku kalap. Dan, saat
seperti ini, terengah engah sendirian di ruang tamu, rasa menyesal
menyelip ke permukaan. Kubayangkan selanjutnya, bagaimana perbincangan tetangga setelah kejadian ini. Mereka pasti menggunjingiku.
Tapi
benarkah aku harus marah? Ranti, perempuan yang kunikahi hampir lima
tahun ini menjadi pemicunya. Beberapa bulan terakhir santer terdengar
jika dia tengah menjalin hubungan gelap dengan teman satu pekerjaan.
Kanan kiri telah mampir ke telinga. Sebagai suami yang memberikan lampu
hijau untuk istrinya bekerja, hal demikian haruslah disikapi secara
bijak. Aku mencoba bijak. Ketika kutanya Ranti, dia malah meyakinkanku
kalau cintanya hanya padaku.
“Aku tak pernah mendua Mas.
Sumpah. Buat apa coba. Aku bahagia bersamamu.” Kata-kata itu
diucapkannya dengan penuh tekanan. Airmatanya keluar. Mengalir di
pipinya. Saat demikian, aku lebih percaya padanya daripada siapapun.
Maka semenjak itu, aku tak pernah mengungkitnya. Bagiku, saling percaya
merupakan kunci dalam menjalani ikatan pernikahan. Aku percaya dan akan
selalu percaya kepadanya. Semasa pacaran, bahkan sampai setelah
menikahpun.
Ranti bekerja juga untuk membantu ekonomi
keluarga. Pekerjaanku sebagai penulis, tak selalu menjanjikan uang
banyak. Bisa dibilang, semenjak Ranti bekerja di pabrik, ekonomi
keluargaku kembali stabil. Dengan kondisi kebutuhan yang harganya kian
melambung, dituntut bisa tidak bisa untuk menambah penghasilan. Salah
satu alternatif, memberikan lampu hijau untuk Ibu dari anakku untuk
bekerja. Ketika sudah memutuskan demikian, pada awalnya risiko terburuk
akan ku terima.
Namun sepertinya, kita terlalu mudah untuk
berencana. Memetakan keinginan kita dengan mudah. Seakan-akan hidup ini
kita sendiri yang mengendalikan. Aku masih mengingat apa yang aku lihat
sendiri tadi malam. Saat hendak mencari referensi kondisi malam di desa
sebelah untuk bahan pendalaman cerpen yang hendak kukerjakan, dinding
kesabaranku benar-benar diuji. Kulihat Ranti berboncengan dengan seorang
pria. Darahku langsung mendidih. Namun masih kupakai akal sehat. Aku
mengikutinya dengan diam-diam kemana mereka. Menurut jadwal kerja, malam
itu Ranti kerja shift malam.
Ranti dan lelaki itu belok
ke sebuah rumah. Aku tak tahu rumah siapa, barangkali rumah lelaki
brengsek itu. Kuletakkan motorku di dekat pohon mangga yang menancap
rimbun di halaman sebuah rumah. Lalu mengendap menuju rumah yang dituju
Ranti. Tak cukup kesulitan, karena suasana yang gelap dan sepi membuatku
leluasa mendekati rumah tersebut. Dari balik jendela, aku memastikan
bahwa perempuan itu benar-benar Ranti. Ternyata benar. Cukup benar. Dia
Ranti istriku. Ranti ibu dari Ali, anak semata wayangku. Situasi seperti
itu hampir saja membuatku gelap mata. Namun kucoba sekuat tenaga untuk
mengontrol semuanya. Dengan perasaan campur aduk, seluruh badanku yang
gemetar, meninggalkan tempat itu.
***
Pagi
itu, Ranti menjerit ketika melihat ruang tamu berantakan. Ternyata tak
hanya ruang tamu, seluruh isi rumah seperti kapal pecah. Silang
sengkarut, sebagian hancur. Ia mencari kemana anak dan suaminya. Tapi
tak didapati keduanya. Padahal biasanya, keduanya sedang tidur ketika
dirinya pulang saat shift malam. Perempuan itu menduga-duga. Barangkali
kerampokan atau sejenisnya. Maka, dengan tangis yang masih melandanya,
ia menuju ke rumah tetangga. Meminta keterangan.
“Saya tak
tahu pasti mbak. Tapi saya sempat medengar suara ribut dalam rumahmu.
Saya dan beberapa tetangga sempat menghentikan Mas Jadid yang
membanting-mbanting semua yang ia pegang. Tapi itu tak mampu
menghentikan semuanya. Tetangga hanya melihat sampai tuntas. Setelah
itu, Mas Jadid dan Ali pergi dengan tas besar. Bahkan, kami semua yang
dari tadi melihat aksinya, disalami satu persatu. Yang saya tahu, dia
meminta maaf semua kesalahannya yang telah dibuat.”
Ranti
bukan main terkejut. Ia berusaha menduga-duga. Perempuan itu dengan
linglung kembali menuju rumahnya. Ia sepenuhnya tahu tabiat suaminya.
Tak mungkin akan bertindak kalap seperti ini jika tak ada sesuatu yang
serius menimpanya. Meskipun selama ini ia tidak sepenuhnya mencintai,
membayangkan kejadian buruk yang akan menimpanya ia belum dan mungkin
tidak siap. Lelaki pilihan keluarganya itu merupakan pribadi yang selalu
percaya dan mengerti kemauannya. Bahkan ketika desus perselingkuhannya
menguat, suaminya lebih percaya padanya.
Kini Ranti merasa
sendiri. Ia rebahkan tubuhnya ditengah keriuhan perabotnya yang
sengkarut. Ia meratapi kekalahannya menutupi perselingkuhannya. Ali,
anak semata wayangnya mengendap endap di pelupuk matanya. Nampak
cemberut sambil memeluk lelaki yang sampai sejauh ini tidak sepenuhnya
dicintai. Ia tahu, tak ada gunanya menangis. Tetapi ia merasa perlu
menangis. Ranti menangis.
(Markas Pribadi-Prambon, 29/4/15)
Jumat, 12 Juni 2015
Bukumu Juga Anumu
Hari ini, (Jumat, 12/6/15), adegan bersih-bersih sepertinya tidak bisa ditunda. Kalau mereka yang hobi batu akik saja tiap hari menggosok barang kesayangannya itu, kenapa saya tidak bisa. Penggila burung bisa berlama-lama tiap pagi berkasih-kasih dengan burungnya. Ah, sesungguhnya faktor sibuk tak bisa dijadikan alasan. Toh, sesibuk apapun kalau diagendakan ya tentu saja bisa. Saya menyadari, hobi pencet-pencet smartphone menjadi kendala utama.
Entah itu siang, malam, pagi, pencet-pencet terasa lebih esoy. Tidak bosan. Lha kok bisa? Maka, kembali ke isu utama, bersih-bersih buku tidak bisa ditunda. Buku-buku saya merupakan harta yang berharga yang kukumpulkan selama masa kuliah. Kendati uang pas-pasan, toh saya bisa melebihi impian dengan punya koleksi 100 buku. Meski mimpi sebenarnya, melebihi koleksi dosen saya. Apa ya bisa? Hmm, setelah rumah tangga, rutinitasku mengunjungi rumah kedua (toko buku) berkurang drastis. Kalau sudah begitu, jangan tanya beli buku. Sudah pasti amat sangat jarang.
Buku-buku kukumpulkan dalam satu area. Sebeumnya terpisah-pisah. Sebenarnya ini inspirasi dari koleksi buku Mas Pana. Saya melihatnya saat "print out" thesis beliau di rumahnya. Koleksi banyak, bervariasi, dan rapi. Itulah salah satu dari alasan yang saya ungkapkan di atas. Nah, langkah awal, dari koleksi yang tercecer di beberapa tempat, saya kumpulkan di satu titik. Sebelumnya dibersihkan debu-debu yang membandel. Tentu tak pakai air. Haha
Sebagai pembaharu agar disebut kekinian, saya mencoba digitalisasi buku. Caranya dengan mendata semua buku. Mulai barcode, kategori, judul, penulis, penerbit, dan tahun terbit. Tujuannya supaya ada data tentang buku-buku apa yang kupunya. Serta kelayakan buku. Karena ada beberapa buku lama yang kondisinya membuat hati pedih. Juga beberapa buku baru yang telah diserang rayap. Lebih menyedihkan. nah, sampai tulisan ini dibuat, proses digitalisasi masih berlangsung. Saya lakukan bertahap. Supaya lebih ringan dan tidak membosankan.
Nah, kalau punya koleksi buku maka janganlah meniru kebiasaan buruk saya. Rawatlah bukumu seperti kamu merawat anumu.
Salam..
----------------------
Markas Pribadi, 12/6/2015
