Menu

Puisi (60) Resensi (19) Opini (17) Sastra (16) Cermin (15) Menjadi guru (13) Teror (9) Sabda Pemilik Kampung (8)

Senin, 15 Juni 2015

Sempurna

“Aku sudah menyumpal mulutnya. Membuatnya bisu selamanya”
“Apa maksudmu Goni?”
Laki-laki yang dipanggil Goni tertawa keras. Tubuhnya berguncang-guncang hebat. Dari mulutnya, air liurnya mirip air terjun. Terjun bebas menuju bumi. Setelah tawanya reda ia kembali menggulirkan perbincangan.
“Ketauilah Bud. Aku telah membunuh Margan. Tepat ketika suaramu melantun di mushola tadi sore.” Budiman terlonjak dari tempat duduknya.
“Aku telah menyumpal mulutnya selamanya”
“Apa maksudmu Gon? Aku tak paham?” Budiman bergetar suaranya.
“Ku pikir orang seperti kamu sudah jauh mengerti dengan apa yang barusan kuucapkan. Kamu senang bukan?” Goni tertawa lagi. Suaranya memecah kehingan malam itu.
“Gila, bagaimana kamu bisa..”
“Itu terlalu gampil buatku. Reputasiku dalam hal beginian tak perlu kau ragukan.”
“Lalu..?”
“Budimanan budiman. Seharusnya kamu paham. Aku mengerjakan semuanya untuk memuluskan rencanamu.”
“Tapi aku tak menyuruh” suara yang keluar dari mulut Budiman masih bergetar.
“Pada orang lain kamu bisa berbohong kawan. Tapi jangan harap bisa melakukan itu padaku.” Suara Gogon kini lebih pelan. Ada penekanan disetiap kata yang diucapkannya.

Budiman diam. Ia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika mayat Margan ditemukan, pastilah gempar kampungnya. Sebagai satu-satunya pesaing kuat di pilihan kepala desa tahun ini, pastilah kecurigaan padanya akan muncul dengan sendirinya.
“Kamu sembrono Gon. Bagaimana kalau mereka menuduhku terlibat dalam pembunuhan. Risikonya besar.” Kali ini terselip kemarahan yang ditekan sedemikian rupa.

Goni memandang lurus ke depan. Sama sekali tak berubah wajahnya. Ia tetap tenang seperti mulanya. Kedua lelaki itu sama-sama diam.
“Sudahlah, semua sudah terjadi. Kamu atur yang baik” suara lunak Budiman mengakhiri pertemuan malam itu.
***
Hari itu kampung Budiman geger. Calon kepala desa, Margan, ditemukan tak berdaya di pinggir hutan oleh seorang pemburu. Bukan sekadar tak berdaya, tapi juga sudah tak bernyawa. Polsek setempat langsung menangani evakuasi jenazah. Sementara isu penyebab kematian masih simpang siur. Pihak keluarga nampaknya menginginkan almarhum untuk segera dikebumikan. Urusan ini itu tampaknya dikesampingkan. Untuk sementara semua warga fokus pada prosesi penguburan jenazah. Termasuk juga Budiman nampak di kerumunan warga.

Ternyata yang menghadiri pemakaman luar biasa banyaknya. Mungkin karena almarhum dikenal sebagai pribadi yang baik, atau di sisi lain rasa keingintahuan warga yang membuat pelayat meledak jumlahnya. Setelah pemakaman, kelurga minta bantuan polisi untuk menyelidiki kematian Margan. Istrinya, terus-terusan menangis. Kakak Margan menjadi juru bicara kali itu.

“Kami pikir Pak, ini harus diusut sampai tuntas. Supaya tak ada prasangka yang macam-macam.” Sementara polisi melakukan invetigasi, isu penyebab meninggalnya calon lurah menggelinding di akar rumput. Setiap orang membicarakannya, tak peduli waktu. Dugaan-dugaan bermunculan. Tapi seperti yang ditakutkan Budiman, muncul juga. Ada sebagian kelompok warga yang mengatasnamakan pendukung garis keras menudingnya pelaku di balik kekejian itu. Mereka beralasan, kerap kali sejauh ini keduanya sering bertikai. Apalagi sebentar lagi keduanya akan bertarung di ajang pilkades.

Perang dingin opini sudah digulirkan. Loyalis Budiman tentu tak menerima apa yang lawannya tuduhkan pada jagoannya. Mula-mula lewat saling serang pendapat. Tak jarang berdebat. Hingga kemudian kontak fisik. Tepatnya tiga hari pasca meninggalnya Margan. Baku hantam tersebut terjadi malam hari di sebuah tanah lapang yang jauh dari rumah penduduk. Keduanya benar-benar menyiapkan segala sesuatunya. Batu, panah, pentungan, mercon. Suara lengkingan jerit semangat dan kesakitan membakar malam itu. Tak pelak, kegaduhan tersebut memancing penduduk untuk merapat ke lokasi. Pada puncaknya, anggota polsek memberikan tembakan peringatan.

Kondisi malam hari yang gulita menyulitkan pihak kepolisian untuk mengamankan pihak bertikai. Karena begitu suara tembakan berbunyi, kedua loyalis langsung mengambil langkah seribu. Begitulah terjadi beberapa kali di hari selanjutnya. Sehingga pemuka desa segera mengambil sikap atas kerusuhan yang terjadi. Sambil menunggu penyelidikan polisi selesai.

“Pertemuan kali ini amatlah penting untuk dilaksanakan. Keadaan sudah darurat.” Budiman mengawali pidatonya di balai kelurahan. Sore itu, para pemuka desa hadir.
“Sepenuhnya kami serahkan untuk eyang Subur untuk mulai.” Budiman mengambil duduk di depan bersama pinisepuh.
“Saudaraku” Suara eyang Subur sedemikian berat. Ada keprihatinan yang tampaknya menggerogoti tubuh rentanya.
“Ini baru pertama, terjadi pembunuhan di kampung yang kita cintai ini. Tidak tanggung, korban kali ini merupakan calon lurah. Sehingga sampai sejauh ini, di beberapa tempat kerap terjadi kerusuhan. Terjadi anarkis. Sebagai orang yang sudah bau tanah seperti saya, prihatin sekali lihat kejadian semacam ini.” Terdiam sejenak. Eyang Subur menghirup napas panjang,lalu mengeluarkan perlahan. Lelaki renta ini amat dihormati. Hanya ia yang masih hidup, dari beberapa orang yang turut babat alas kampung Dongus.

“Ini negara hukum. Sudah sewajar dan seharusnya kita taat hukum. Biarkan polisi yang menyelidiki. Bukan malah main pukul dan hajar. Kalau apa yang beberapa hari ini kita biarkan, bukan tidak mungkin akan pecah perang saudara.” Berhenti sejenak memandangi warga yang turut serta dalam rapat darurat tersebut.”

“Eyang jangan banyak berkhotbah. Apa solusinya?” suara keras muncul dari arah paling belakang. Semua mata melahap pemuda itu.
“Masalah tak akan kelar kalau Cuma khotbah saja. Mari kita bergerak” tangannya mengepal. Semua yang hadir langsung ribut. Eyang Subur yang bergetar menahan amarah, hanya bisa mengatupkan mulutnya. Sorot matanya yang dulu garang, kini tak lagi kelihatan magisnya.
“Saudaraku, tolong hormati Eyang.” Budiman berdiri. Suaranya keras. Menggelegar. Sontan, yang hadir diam.
“Saya tahu ini negara demokrasi. Semua bebas berpendapat. Bebas nggacor. Tapi ingat, jaga tata krama. Eyang ini panutan kita”
“Hai pembunuh. Diam kamu. Seharusnya kamu yang dibakar hidup-hidup.” Pemuda itu makin beringas. Mata nyalangnya melahap habis Budiman.
Beberapa warga yang dekat dengan Budiman, langsung siaga. Dengan cekatan berdiri dan memberi bertubi-tubi tinju ke wajah pemuda itu. Pemuda itu melawan. Yang lain sepertinya tak mau kalah. Pertemuan untuk mencari mufakat itu berubah menjadi arena adu jotos.

Budiman memapah Eyang Subur meninggalkan balai desa. Sementara baku hantam masih berlanjut. Hingar bingar itu membuat warga yang mendekam di rumah masing-masing menjadi penasaran. Tak berselang lama, balai desa itu sudah dipenuhi warga. Melihat sanak keluarganya bonyok, menyulut anggota keluarganya turun tangan. Demikianlah, perkelahian bukan semakin reda, tetapi selebihnya semakin menjadi.

Sementara itu, Budiman membawa Eyang Subur menjauh dari arena adu jotos. Baginya, tak ada yang lebih penting daripada nyawa tetua kampung tersebut. Karena dengan menyelamatkan Eyang Subur, dirinya akan menjadi pahlawan. Jalan kemenangan untuk menjadi kepala desa kian terbuka.
“Eyang harus bertahan” tubuh renta itu semakin dingin saja. Budiman memanggulnya dengan bersemangat sekali. Ia sama sekali tidak tahu, di depan sana Goni telah menyiapkan rencana yang amat sempurna.

(Markas Pribadi-Prambon, 3/5/15)

Menangis

Kepalaku baru saja meledak. Meja ruang tamu, kubanting. Kursi, televisi, setrika, juga turut serta. Sudah sejak lama ini, kusimpan masalah demi masalah dengan hati-hati. Sejujurnya, aku benci pertikaian. Namun, dinding kesabaranku sepertinya jebol. Aku kalap. Dan, saat seperti ini, terengah engah sendirian di ruang tamu, rasa menyesal menyelip ke permukaan. Kubayangkan selanjutnya, bagaimana perbincangan tetangga setelah kejadian ini. Mereka pasti menggunjingiku.

Tapi benarkah aku harus marah? Ranti, perempuan yang kunikahi hampir lima tahun ini menjadi pemicunya. Beberapa bulan terakhir santer terdengar jika dia tengah menjalin hubungan gelap dengan teman satu pekerjaan. Kanan kiri telah mampir ke telinga. Sebagai suami yang memberikan lampu hijau untuk istrinya bekerja, hal demikian haruslah disikapi secara bijak. Aku mencoba bijak. Ketika kutanya Ranti, dia malah meyakinkanku kalau cintanya hanya padaku.

“Aku tak pernah mendua Mas. Sumpah. Buat apa coba. Aku bahagia bersamamu.” Kata-kata itu diucapkannya dengan penuh tekanan. Airmatanya keluar. Mengalir di pipinya. Saat demikian, aku lebih percaya padanya daripada siapapun. Maka semenjak itu, aku tak pernah mengungkitnya. Bagiku, saling percaya merupakan kunci dalam menjalani ikatan pernikahan. Aku percaya dan akan selalu percaya kepadanya. Semasa pacaran, bahkan sampai setelah menikahpun.

Ranti bekerja juga untuk membantu ekonomi keluarga. Pekerjaanku sebagai penulis, tak selalu menjanjikan uang banyak. Bisa dibilang, semenjak Ranti bekerja di pabrik, ekonomi keluargaku kembali stabil. Dengan kondisi kebutuhan yang harganya kian melambung, dituntut bisa tidak bisa untuk menambah penghasilan. Salah satu alternatif, memberikan lampu hijau untuk Ibu dari anakku untuk bekerja. Ketika sudah memutuskan demikian, pada awalnya risiko terburuk akan ku terima.
Namun sepertinya, kita terlalu mudah untuk berencana. Memetakan keinginan kita dengan mudah. Seakan-akan hidup ini kita sendiri yang mengendalikan. Aku masih mengingat apa yang aku lihat sendiri tadi malam. Saat hendak mencari referensi kondisi malam di desa sebelah untuk bahan pendalaman cerpen yang hendak kukerjakan, dinding kesabaranku benar-benar diuji. Kulihat Ranti berboncengan dengan seorang pria. Darahku langsung mendidih. Namun masih kupakai akal sehat. Aku mengikutinya dengan diam-diam kemana mereka. Menurut jadwal kerja, malam itu Ranti kerja shift malam.

Ranti dan lelaki itu belok ke sebuah rumah. Aku tak tahu rumah siapa, barangkali rumah lelaki brengsek itu. Kuletakkan motorku di dekat pohon mangga yang menancap rimbun di halaman sebuah rumah. Lalu mengendap menuju rumah yang dituju Ranti. Tak cukup kesulitan, karena suasana yang gelap dan sepi membuatku leluasa mendekati rumah tersebut. Dari balik jendela, aku memastikan bahwa perempuan itu benar-benar Ranti. Ternyata benar. Cukup benar. Dia Ranti istriku. Ranti ibu dari Ali, anak semata wayangku. Situasi seperti itu hampir saja membuatku gelap mata. Namun kucoba sekuat tenaga untuk mengontrol semuanya. Dengan perasaan campur aduk, seluruh badanku yang gemetar, meninggalkan tempat itu.

***

Pagi itu, Ranti menjerit ketika melihat ruang tamu berantakan. Ternyata tak hanya ruang tamu, seluruh isi rumah seperti kapal pecah. Silang sengkarut, sebagian hancur. Ia mencari kemana anak dan suaminya. Tapi tak didapati keduanya. Padahal biasanya, keduanya sedang tidur ketika dirinya pulang saat shift malam. Perempuan itu menduga-duga. Barangkali kerampokan atau sejenisnya. Maka, dengan tangis yang masih melandanya, ia menuju ke rumah tetangga. Meminta keterangan.

“Saya tak tahu pasti mbak. Tapi saya sempat medengar suara ribut dalam rumahmu. Saya dan beberapa tetangga sempat menghentikan Mas Jadid yang membanting-mbanting semua yang ia pegang. Tapi itu tak mampu menghentikan semuanya. Tetangga hanya melihat sampai tuntas. Setelah itu, Mas Jadid dan Ali pergi dengan tas besar. Bahkan, kami semua yang dari tadi melihat aksinya, disalami satu persatu. Yang saya tahu, dia meminta maaf semua kesalahannya yang telah dibuat.”

Ranti bukan main terkejut. Ia berusaha menduga-duga. Perempuan itu dengan linglung kembali menuju rumahnya. Ia sepenuhnya tahu tabiat suaminya. Tak mungkin akan bertindak kalap seperti ini jika tak ada sesuatu yang serius menimpanya. Meskipun selama ini ia tidak sepenuhnya mencintai, membayangkan kejadian buruk yang akan menimpanya ia belum dan mungkin tidak siap. Lelaki pilihan keluarganya itu merupakan pribadi yang selalu percaya dan mengerti kemauannya. Bahkan ketika desus perselingkuhannya menguat, suaminya lebih percaya padanya.

Kini Ranti merasa sendiri. Ia rebahkan tubuhnya ditengah keriuhan perabotnya yang sengkarut. Ia meratapi kekalahannya menutupi perselingkuhannya. Ali, anak semata wayangnya mengendap endap di pelupuk matanya. Nampak cemberut sambil memeluk lelaki yang sampai sejauh ini tidak sepenuhnya dicintai. Ia tahu, tak ada gunanya menangis. Tetapi ia merasa perlu menangis. Ranti menangis.

(Markas Pribadi-Prambon, 29/4/15)

Jumat, 12 Juni 2015

Bukumu Juga Anumu

Lama sekali saya abai terhadap buku sendiri. Semenjak menikah, terhitung beberapa kali mengumpulkan buku terserak. Menatanya dengan asal. Bahkan, buku-buku tersebut kesannya terlantar. Kondisi yang berdebu, ternyata membuat hatiku tersentuh. Sakitnya di sini, kata anak alay.

Hari ini, (Jumat, 12/6/15), adegan bersih-bersih sepertinya tidak bisa ditunda. Kalau mereka yang hobi batu akik saja tiap hari menggosok barang kesayangannya itu, kenapa saya tidak bisa. Penggila burung bisa berlama-lama tiap pagi berkasih-kasih dengan burungnya. Ah, sesungguhnya faktor sibuk tak bisa dijadikan alasan. Toh, sesibuk apapun kalau diagendakan ya tentu saja bisa. Saya menyadari, hobi pencet-pencet smartphone menjadi kendala utama.

Entah itu siang, malam, pagi, pencet-pencet terasa lebih esoy. Tidak bosan. Lha kok bisa? Maka, kembali ke isu utama, bersih-bersih buku tidak bisa ditunda. Buku-buku saya merupakan harta yang berharga yang kukumpulkan selama masa kuliah. Kendati uang pas-pasan, toh saya bisa melebihi impian dengan punya koleksi 100 buku. Meski mimpi sebenarnya, melebihi koleksi dosen saya. Apa ya bisa? Hmm, setelah rumah tangga, rutinitasku mengunjungi rumah kedua (toko buku) berkurang drastis. Kalau sudah begitu, jangan tanya beli buku. Sudah pasti amat sangat jarang.

Buku-buku kukumpulkan dalam satu area. Sebeumnya terpisah-pisah. Sebenarnya ini inspirasi dari koleksi buku Mas Pana. Saya melihatnya saat "print out" thesis beliau di rumahnya. Koleksi banyak, bervariasi, dan rapi. Itulah salah satu dari alasan yang saya ungkapkan di atas. Nah, langkah awal, dari koleksi yang tercecer di beberapa tempat, saya kumpulkan di satu titik. Sebelumnya dibersihkan debu-debu yang membandel. Tentu tak pakai air. Haha

Sebagai pembaharu agar disebut kekinian, saya mencoba digitalisasi buku. Caranya dengan mendata semua buku. Mulai barcode, kategori, judul, penulis, penerbit, dan tahun terbit. Tujuannya supaya ada data tentang buku-buku apa yang kupunya. Serta kelayakan buku. Karena ada beberapa buku lama yang kondisinya membuat hati pedih. Juga beberapa buku baru yang telah diserang rayap. Lebih menyedihkan. nah, sampai tulisan ini dibuat, proses digitalisasi masih berlangsung. Saya lakukan bertahap. Supaya lebih ringan dan tidak membosankan.

Nah, kalau punya koleksi buku maka janganlah meniru kebiasaan buruk saya. Rawatlah bukumu seperti kamu merawat anumu.

Salam..

----------------------
Markas Pribadi, 12/6/2015

Jika Saja Aku Ingin

Aku sudah menulis puisi untukmu
Tepat ketika mataku terbuka pagi tadi

Seperti biasanya,
aku ingin membacakan untukmu
Jika saja rupiah menguat menjelang ramadhan
jika saja pssi-kemenpora berjabat muka
jika saja ngaji di kaset menjelang adzan tak dipersoalkan pemerintah
jika saja harga sembako tidak melambung begini


aku ingin membacakan puisiku
tapi bukan kali ini
bukan bulan ini
bukan tahun ini

aku ingin
kamu setia menunggu
sampai jika saja menjadi ada
sampai yang tak pasti menjadi pasti

mungkin

-----------------
Krian, 9/6/15

MungkinAku Bisa

Mana mungkin aku bisa
melupakanMu
tidak untuk sedetik
atau bilangan waktu hipermikro

aku adalah bagianMu
yang paling renta dan hina
--ahli menghujat
dan memaki apa yang ada
--tukang kibul
dan memangsa apa yang tersedia

adakah yang lain Tuhan?

-------------------
Krian, 11/6/15

Minggu, 26 April 2015

Pendidikan ala Ma Yan

(Resensi kali ini melebihi deadline. Sepanjang April, hanya #Mayan yang berhasil kubaca. Curhat sedikit ding, seperti biasanya. Terlalu sibuk dengan urusan yang sebenarnya bisa diakali bila manajemen waktunya yahud. Yah, rapor merah untuk bulan ke 4 di 2015 ini.)


Judul buku: Ma Yan
Penulis: Sanie B Kuncoro
Editor: Rahmat Widada
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, 2011
Tebal: 214 hlm.

Mayan: Perjuangan dan Mimpi Gadis Kecil Miskin di Pedalaman China untuk Meraih Pendidikan, merupakan novel yang terbit di Mei 2011 yang ditulis oleh Sanie B. Kuncoro. Novel ini diangkat dari kisah nyata dalam sebuah buku Diary Ma Yan oleh Piere Heski dkk, yang menceritakan dengan detail kisah seorang perempuan kecil di Tiongkok (berupa semacam laporan jurnalis). Mengambil latar pusat cerita di Zhangjiashu, sebuah tempat terpencil dekat sungai Kuning di Cina. Novel ini mengisahkan dengan cukup menarik, perjuangan seorang anak perempuan dalam tekadnya untuk bersekolah. Di tengah kemiskinan yang mendera lingkungannya dan tradisi perempuan yang diduakan (maksud di duakan yakni posisi anak laki-laki merupakan kebanggaan), Ma Yan mencoba mendekonstruksi apa yang selama ini dianggap ganjil, bahwa pendidikan terutama bagi anak perempuan dapat memutus mata rantai kemiskinan sebuah keluarga.

Mayan, juga mengisahkan bagaimana tekad sang Ibu yang dengan energi penghabisan mendukung putrinya untuk mencapai level pendidikan terbaik, meski lingkungan yang ditempatinya sangat tidak memungkinkan untuk itu. Keluarga petani miskin ini, dalam kesehariannya sangat kesusahan untuk sekadar makan. Jurus ampuh, menahan lapar, merupakan alternatif untuk menyiasati keadaan. Lalu bagaimana pada kondisi demikian terpikir untuk mendapatkan biaya sekolah yang (selalu) tinggi.

Diceritakan dengan tiga sudut pandang berbeda. Pertama lewat orang ketiga, yakni Piere, redaktur sebuah koran dari Prancis. Kedua, orang pertama/aku (Ibu), dan ketiga, orang pertama/aku (Ma Yan).

Cerita diawali dari sudut pandang ketiga, Piere yang sedang melakukan investigasi di pedalaman mendapati seorang perempuan miskin yang memberikan tiga buah buku catatan, milik anaknya. Melihat kegigihan perempuan tersebut, meskipun terkendala bahasa, Piere dan timnya akhirnya menerima buku tersebut. Meski tidak memahami tulisannya, Piere beranggapan jika dirinya dipercaya oleh pemberi untuk menyimpan, membaca, dan barangkali memberikan timbal balik.

Selanjutnya, secara bergantian tokoh aku Ibu dan tokoh aku Ma Yan, mengisahkan perasaan, sikap, cita-cita dalam menjalani dera kemiskinan. Terkadang, untuk permasalahan yang sama, digunakan dua cara pandang. Saat Ma Yan disuruh berhenti sekolah karena masalah biaya, kita dapati dua persepektif yang memandangnya. Begitupun saat sang ibu memberikan buku catatan Mayan, pada orang asing yang tak dikenalinya. Ketika dua carapandang membidik hal sama, saya mencatat ada titik jenuh di sana. Apa yang sudah diceritakan, kembali dikisahkan lagi. Tentu saja penambahannya pada efek ke akuan. Tapi saya rasa tidak berhasil dalam hal ini. Sehingga yang memungkinkan, tidak perlu dualisme cara pandang. Karena pembaca memiliki imajinasnya, yang kebetulan sama dengan pengisahannya.

Dikisahkan dengan bahasa yang renyah dan mudah, penulis kita ini mencoba membidik kondisi sosial di negara lain. Sebuah kisah, yang menurut narasi di sampul belakang, merupakan kisah nyata, tidak terlalu berhasil memotret kondisi sosiokultur tersebut. Ketika membacanya, saya tak merasakan itu berada di Cina, tetapi justru seperti di negara sendiri. Penulis belum berhasil memindahkan kekhasan lingkungan setempat menjadi benar-benar di Cina.

Cerita diakhiri dengan pembandingan oleh Piere. Ia merefleksikan bagaiamana Ma Yan dengan gigihnya memperjuangkan mimpinya untuk sekolah. Juga sang ibu yang juga petarung untuk anaknya. Novel ini diakhiri dengan terbuka. Bagaimanakah nasib Ma Yan dan keluarganya, pembaca tentu memiliki alternatif ending sendiri. tentu saja dengan melihat Ma Yan Ma Yan di lingkungan mereka sendiri. Sebuah buku yang direkomendasikan bagi mereka yang tidak punya nyali untuk sekadar bermimpi.

Rabu, 15 April 2015

Di Kepalamu ada Anu

tiba-tiba saja kepalamu dipenuhi
akses menuju lorong-lorong rahasia
yang menuju kota bernama KEMISKINAN

———–padahal terakhir bertemu
kamu bilang semua beredar di garis edarnya
tidak gemar lagi blusukan di media
tidak merasai lagi pe-es-ka online
:apalagi membunuhnya
dan banyak lagi
deretan tidak-tidak yang parkir di bawah
bibirmu yang basah.

lalu, kenapa hanya kepada
penyair tidak populer pula
kau umbar isi kepalamu
(mohon maaf, saya bukan
pengambil kebijakan semacam itu)

sudahlah kawan,
kita ini hanya petugas saja
biarlah akses menuju kota itu
diselesaikan baik-baik di kementerian terkait
mari islah saja

bukankah bersatu lebih baik?
(16 April 2015, 01:10)