
Untuk: Seiko, sang pembunuh yang manis
aku selalu memandangimu saat langit berbias merah.
Wajahmu senja, mencangkung di kaki bukit.
Aku selalu memandangimu. Bola matamu selalu berbinar-binar. Melumat habis hatiku.
(Semenjak itu setiap sore aku duduk di bangku ini. Tanpa siapapun. Aku mencintai kaki bukit itu. Senja itu. Wajah itu)
Menjelang malam kutukar bola mataku.
(Seperti orang-orang yang menukar omongannya dengan bahagianya).
Agar parasmu tak terjamah oleh siapapun.
(Aku bersungguh-sungguh kawan)
Aku ingin main puzzle. Mengutak-atik wajahmu.
Sambil menanti bergulirnya hati.
(kereta pun tiba di senja yang manis. Minggu kelabu)
Aku masih menatap wajahmu. Wajahmu senja, mencangkung di kaki bukit.
Matamu bening jingga bersama kereta.
(Aku menusuk bola mataku. Mendaki kereta yang menjemputku.)
Aku pergi ke langit untuk menemuimu.
(kereta senja terlahir dari kaki bukit itu)
Shodiqinisme
Ngagel Dadi, 27 Nov 2009
Menu
Senin, 10 Mei 2010
Main Puzzle
Pergolakan Asmara dalam Drama Perahu Retak Karya Emha Ainun Najib: Sebuah Tinjaun Dekontruksi
1.Pendahuluan
Pergolakan asmara merupakan sebuah wacana yang terus berlangsung mulai jaman dulu. Kita bisa melihat tragedi Yunani kuno, Oedipus Sang Raja, kemudian Romeo and Juliet, Lalila Majnun, Roro Mendut dan Pronocitro, bahkan dalam sejarah kerajaan Jawa, Ken Arok—Ken Dedes, merupakan sebuah wacana asmara yang begitu kental dan akan terus berkembang terus dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam sastra.
Permasalahan asmara merupakan maslah klasik yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Oleh sebab itu tak aneh bila tema-tema asmara lahir terus dalam dunia sastra. Mengingat sastra merupakan representasi dari keadaan dari perspekrif pengarang (baca: Manusia).
Naskah drama Perahu Retak juga mengndung pergolakan asmara. Permasalahannya, bila memakai kaca mata teori modern, maka tema ini akan tenggelam oleh tema lain yang lebih besar. Tetapi dengan teori dekontruksi, tema-tema yang semul dianggap minor akan memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri.
2.Sebuah Tinjauan Dekontruksi dan Relevensi Sastra
Dekontruksi merupakan pengurangan atau penurunan intensitatas kontruksi itu sendiri ( Kutha Ratna, 2007:245). Sehingga unsure biner dalam sebuah oposisi tidak selalu mendominasi. Sebaliknya, unsure-unsur yang semula selalu terlupakan, terdegrdasikan dan termarginalisasikan seperti: kelompok minoritas, kelompok yang lemah, kaum perempuan, tokoh-tokoh komplementer dn sebagainya, dapat diberikan perhatian yang memadai, bahkan secara seimbang dan proposional.
Pada dasarnya dekontruksi merupakan pengembangan dari pos strukturalisme. Bahkan Junus (Endraswara, 2008:174) dekontruksi sebagai pasca strukturalisme yang ekstrem. Sifat ekstrem yang dimaksud dalah pemaknaan karya sastra dapat dimulai dari aspek mana saja bahkan dari aspek kecil yang semula tidak menarik perhatian orang.
Menurut Derrida (Endraswara, 2008:174) menegaskan jika unsure yang semula tak logis atau mapan dalam konteks struktur secara tidak langsung kadang-kadang justru akan muncul berulang-ulang. Sehingga akan menguatkn pemknaan atau malah mengaburkan.
Benar dalam dekontruksi berlku pembongkaran, tetapi tujuan akhir yang hendak dicapai adalah penyusunan kembali ke dalam tatanan dan tataran yang lebih signifikan, sesuai dengan hakikat objek, sehingga aspek-aspek yang dianalisis dpat dimanfaatkan semaksiml mungkin. Ini yng disebut Spivak (Kutha Ratna, 2007:246) bahwa dekontruksi merupkan gagasan antara destruktif dan konstruktif.
Menurut Endraswara (2008:173), relevansi dekontruksi bagi penelitian sastra ada empat hal.
1.Terdapat keterkaitan dengan serangkaian kritik, termasuk kosep kesastran sendiri.
2.Sebagai sumber tema
3.Sebagai contoh stretegi pembacaan
4.Sebagai gudang cadangan saran-saran mengenai kodrat dan tujuan ktitik sastra itu sendiri.
3.Pergolakan Asmara dalam Drama Perahu Retak Karya Emha Ainun Najib
Wacana yang terangkat bila kita mencermati drama Perahu Retak (selanjutnya PR), yakni adnya konfrontasi antara Mataram dan Islam. Mataram sebagai wilayah kerajaan yang di dalamnya terdapat Islam. Sungguh merupakan lingkaran hermeneutis kompleks. Sebagai sebuah wilayah kerajan, tentunya terdapat kekuasaan dari pemimpin yang mempunyai kewenangan untuk mengkontruksi wilayahnya. Permasalahn kemudian timbul ketika pengaruh Islam yang juga telah dianut oleh sebagian besar masyarakat dan bahkan penguasa setempat bertentangan dengan kekuasaan pemerintah.
Mandoroko : Kami sendiri merasa bahwa Mataram dengan Islam telah menyatu seperti sungai dengan airnya, seperti matahari dan sungainya.
Jangkung : Mataram menjadi bagian dari Islam atukah Islam menjadi bagian dari Mataram? (hal. 55)
Pemikiran Ki Mandoroko, perwakilan penguasa (pusat) seperti yang tertuang dalam dialog di atas mengandung implikasi jika Islam harus selaras dengn Mataram. Padahal konsep agama, merupakan kebenaran hakiki yang seharusnya berdiri tegak di tengah kekuasaan. Kebenaran yang datang dari Tuhan, selayaknya dijadikan sebagai tatanan dalam kehidupan diberbagai segi dan sendi kehidupan. Pandangan inilah yang dipegang teguh oleh Syeh Jangkung dan kawan-kawan, yang menghendaki agar Mataram menjalankan Islam secara kaffah (menyeluruh).
Berbicara Mataram, sulit bagi kita untuk melepaskan konsep Jawa. Selain Karena wilayah kerajaan ini secara geografis terletak di Jawa, pada masa inilah mitos Nyi Roro Kidul, Ratu Lelembut Pantai Selatan, bermul. Seperti cerita dalam Babad Tanah Jawi, jika Panembahan Senopati (penguasa Mataram saat itu) bersekutu dengan Nyi Roro Kidul. Dalam pendahuluan PR, dilukiskan sebagai berikut.
Kerajaan Mataram tidak meneruskan “tradisi wali”, dan menggantinya dengan legitimasi mistik Jawa terutama melalui figure Nyai Roro Kidul, yakni tokoh yang dipercaya sebagai Ratu Laut Selatan yang berhubungan karib dengan Raja Mataram. (vii)
Mitos Ratu Pantai Selatan itu sampai kini masih hidup dengan subur di tengah kehidupan masyarakat Jawa. Dalam PR, mitos ini menjadi pergunjingan kubu Islam. Mereka mempertanyakan sekaligus menggugat Penguasa yang melestarikan mitos gaib (Nyi Roro Kidul) sebagai distorsi terhadap Islam. Sebab Islam memandang hal semacam itu merupakan perbuatan syirik (dosa besar).
Murtadlo : Mungkin kami memang penerus Nabi. Tapi kami yakin bukan petugas dari kerajaan Nyi Roro Kidul ysng kini mskin menguasai pikirn rakyat Mataram. (22)
Subendo : Adi!! Panembahan Senopati adalah santri Roro Kidul.
Jolego : Dan Ki Mandoroko Juru Martani adalah Kiai Gondhal Gandhul (34)
Sengketa Islam, Mataram dan sekaligus Jawa pada PR, merujuk pada pemertahanan identitas dari masing-masing terma yang bertikai. Tetapi karena latar dari drama ini yakni permulan berdirinya kerajaan Mataram, permulaan abad 16, maka identitas kemataramannya masih belum jelas. Pengaruh Islam dan mistik Jawa saling menyodorkan konsep-konsep sebagai alternatif pencarian identitas. Konsep mistik Jawa dipertahankan di pusat, sekaligus menerima Islam dengan mereduksinya sehingga kekuasaan tetap terjaga. Sementara itu Islam menjadi identitas pinggiran. Mengingat historisitas pinggiran sebagai asal-usul masuknya Islam.
Uraian di atas setidaknya merupakan wacana umum bila kita mencermti drama PR. Hal ini diperkuat dengan cover buku dalam yang bertuliskan sebuah lakon tradisi “Perahu Retak” Cermin Perselisihan Jawa-Islam di awal kerajaan Mataram serta pendahuluan yang memaparkan kondisi kultur-sosial latar PR. Dari sini kentara, bagaimana pembaca digiring pada sebuah alur cerita tradisi konvensional. Intrik-intrik pergolakan Jawa-Islam menjadi tema besar dalam seluruh adegan cerita, atau setidaknya inilah yang bisa kita lihat secara langsung.
Pergolakan Islam—Jawa dalam PR, tentunya melahirkan serangkaian cerita dengan beberapa tokoh di dalamnya. Tokoh penting yang menjadi akar permasalahan dalam PR yakni Sahil. Santri yang terbunuh akibat pertikaian Murtadho dkk. (Islam) kontra Marsiung dkk. (Mataram). Murtadho yang tengah meyebarkan Islam pada penduduk setempat disinyalir ancaman bagi Marsiung, seorang pamong daerah Trembesi. Sehingga terjadi ketegangan dan saling olok antara kedua belah pihak.
(Rupanya rombongan Ki Marsiung menhampiri, keasyikan para santri tiba-tiba terhenti dan perhatian penduduk menjadi terbelah. Beberapa lama suasana menjadi lengang dan tegang. Kedua kelompok itu saling berhadapan) (21)
Marsiung : Ini dusun kekuasaan kami. Kami mendapat mandat penuh dari Nyi Demang Sendangsih bahkan dari Tumenggung Karang Gumantung dan Tumenggung Cekal Birowo, untuk menindak tegas siapa saja yang mengancam keamanan.
Murtadho : Kalian yang mengancam keamanan cinta antara penduduk dan para santri. Dan lagi kami mendapat mandat penuh dari Allah, panglima alam semesta, untuk menyebarkan jaran-ajaran dan cintaNya. (22)
Pertikaian ini mencapai klimaks setelah salah satu anggota santri bernama Sahil ditemukan meninggal tak jauh dari tempat itu. Hal ini memicu konflik yang serius karena permasalahan ini mewakili dua kekuatan yang lagi berseteru.
(Semua tergeragap. Murtadho dan para santri lainnya memekik spontan menghampiri. Memekiklah mereka setelah melihat bahwa yang dibopong Kalong adalah jenazah santri Sahil) (29)
Murtadho : Jiman! Kijing! Cepat kalian pergi menyusul Kiai Tegal Sari dan Syech jangkung untuk memberitahukan kekejaman ini!!
Sukijing : Ki Marsiung harus membayar dengan nyawanya!
Jmbuwangi : Kalau soal Marsiung cukup dengan menggerakan jari-jari. Tapi ini adalah benih dari permasalahan besar yang menyangkut kerajaan dan seluruh rakyat.
Pembunuhan Sahil merupakan akar permasalahan dari bertemunya konflik Islam—Mataram secara nyata. Yakni ketika Syeh Jangkung dan Kiai Tegal Sari (kubu Islam) bertemu Ki Mandoroko Juru Martani (kubu Mataram) pada adegan lima belas. Meskipun dalam pembicaraannya kemudian mendalam mengenai pandangan Mataram terhadap Islam dan sebaliknya, tetapi kita harus ingat tujuan utama dari Syeh Jangkung dan Kiai Tegal Sari. Bukankah tujuan mereka untuk mencari pertanggung jawaban tentang kematian Sahil?
Tegal Sari : Para pamong di berbagai wilayah menghalangi kegiatan santri-santriku. Terkadang bahkan dibantu oleh sejumlah Ulama Istana yang memusuhi kami. Dan sekarang ini kami datang ke mari karena salah seorang santriku terbunuh.
Kematian Sahil bukan merupakan tumbal dari perselisihan Mataram—Islam, meskipun kemudian lebih menajamkan konflik kedua kubu yang bertikai. Sebagai akar permasalahan, kita harus mencari kenapa Sahil dibunuh? Motif apa yang terselubung di dalamnya? Apakah benar kematin Sahil ada sangkut pautnya dengan konflik Mataram—Islam?
Motif yang mendasari terbunuhnya Sahil ternyata adalah persoalan asmara.
Sendangsih : Pak Janu ingin mengambil Nak Mas Murtadho untuk dijadikan menantu. Padahal Ki Marsiung sudah lama mengincar anak gadis Pak Janu untuk dijadikan Istrinya yang kedua.
Pelacakan Demang Sendangsih terhadap kematian Sahil ternyata seperti yang termaktub di atas. Permusuhan Marsiung dan Murtadho ternyata tak semata-mata bertema Islam—Mataram, karena kemudian di sana ada pergolakan asmara yang melatar belakanginya. Meskipun pembunuh Sahil ternyata Carik Sukadal, (hal. 62) tetapi tetap saja ini lahir dari percekcokan Marsiung—Murtadho. Pergolakan asmara inilah menjadi motif terbunuhnya Sahil. Sehingga drama Perahu Retak, meskipun ada wacana konfrontasi Islam—Mataram, tetapi pergolakan asmara ini tidak bisa kita abaikan. Karena sesungguhnya inilah bibit dari permasalahan yang muncul dalam drama ini, sehingga kubu Islam menyatroni kubu Mataram.
Pergolakan asmara meski terbersit sekilas dari pembicaraan Demang Sendangsih, tetap merupakan sebuah jenjang wacana yang besar. Sehingga tema ini sepadan dengan konlik Islam—Mataram. Karena dalam dekontruksi tak mengenal pusat, maka keduanya bisa berdiri sebelah-menyebelah sebagai mata rantai dari sebuah cerita.
4.Daftar Pustaka
Nadjib, Emha Ainun. 1992. Perahu Retak. Jakarta: Garda Pustaka
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Presindo/cet. 4
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar/cet. 2.
Problematika Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra mempunyai perspektif jika di dalam karya sastra terdapat kenyataan yang merujuk pada dunia di luar sastra (nyata). Sehingga penelitian sosiologi melibatkan dua disiplin ilmu yakni ilmu sosiologi (ilmu yang mempelajari hubungan manusia sesama manusia) dan ilmu sastra. Kuncinya terletak pada sejauh mana kenyataan yang terdapat pada kenyataan digambarkan oleh karya sastra. Hal ini senada dengan pendapat Teeuw yang menyatakan jika sastra tak lahir dari kekosongan budaya.
Sastra lahir dari imajinasi pengarang (baca: manusia) terhadap lungkungan sosial di sekitarnya. Sehingga mustahil tanpa adanya konteks sosial maka sebuah sastra akan lahir. Sehingga agak bijak bila kita kemudian tak mengabaikan konteks sosial ini.
Tapi sebelum itu kita harus menyadari jika sastra merupakan salah satu jenis seni yang bermedium bahasa. Sehingga kita terlebih dulu menghadapi bahasa ketika berhadapan dengan sastra. Bahasa sastra menurut Lotman adalah bahasa tingkat kedua. Yang berarti jika bahasa sastra mempunyai konvensi berbeda dengan bahasa sehari hari yang digunakan. Kita tak akan mengartikan ”aku ini binatang jalang” sebagaimana arti sesungguhnya bila menhadapi sajak charil Anwar. Keambiguan inilah merupakan ciri khas bahasa sastra.
Namun demikian, ada konsep awal yang perlu kita pahami untuk mengkontrusi cara berpikir kita bila berhadapan dengan sastra, yakni konvensi kesastraan itu sendiri. Bila kita memegang novel, kita pasti tahu bila apa yang akan kita baca merupakan kejadian yang tak pernah terjadi atau setidaknya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara hukum apa yang terjadi di dalamnya (kevalidannya). Hal ini berbeda bila memegang buku sejarah, sains dan sebagainya. Inilah konvensi kesastraan, karena seperti di awal, jika sastra merupakan imajinasi, pergulatan batin pengarang dengan permasalahn yang dihadapinya. Oleh karena itu Luxemberg dkk, berbicara perihal fiksionalitis sebagai ciri sastra.
Nah, ketiga konvensi itulah yang menjadi problematik penelitian sosiologi sastra. Karena kenyataan yang ada dalam karya sastra merupakan kenyataan yang berdiri sendiri dengan konteks soialnya.
Plato vs Aristoteles (sastra)
Plato memandang seni sebagai mimesis (tiruan) dari kenyataan. Seni hanya menyajikan suatu ilusi tentang kenyataan dan tetap jauh dari kebenaran. Oleh karena tiruan, maka nilai seni menurut Plato rendah. Sastra sebagai salah satu cabang seni yang bermedium bahasa, dikatakan lebih rendah karena tak bisa di raba dengan panca indra.
Adapun jalan pikiran Plato (Luxemberg dkk, 1992:16) yakni kenyataan yang dapat kita amati setiap benda terwujud menurut berbagai bentuk, tetapi setiap benda berwujud menurut berbagai bentuk, tetapi setiap benda mencerminkan suatu ide yang asli (gambar induk); terdapat aneka macam bentuk ranjang dan meja, tetapi itu semua berasal dari ide atau gambar induk mengenai sebuah ranjang dan meja. Bila seseorang tukang membuat almari, berarti ia menjiplak almari seperti dalam dunia ide. Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai dengan yang asli (kenyataan yang dapat kita amati dengan panca indra selalu kalah dalam duni ide). Tetapi seorang tukang lebih dekat dengan kebenaran, karena jiplakannya bisa di raba.
Berbeda dengan pandangan gurunya, Aristoteles menolak pemikiran Plato mengenai kesenian. Menurutnya, seni bukanlah kegiatan meniru kenyataan, tetapi merupakan sebuah proses kreatif yang berpangkal dari kenyataan. Bagi Aristoteles mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan merupakan sebuah proses kreatif. Dengan bermimesis penyair menciptakan kembali kenyataan: adapun bahannya ialah barang-barang seperti adanya, atau ”barang-barang seperti pernah ada, atau seperti yang kita bayangkan, atau seperti adanya ada” (yaitu fakta dfari masa kini atau masa kini atau masa silam, keyakinan, cita-cita).
Dalam Poetika, Aristoteles mengutarakan beberapa pandangan yang bagi perkembangan teori sastra selanjutnya teramat penting. Ia tidak lagi memandang sastra sebagai suatu copy atau jiplakan mengenai kenyataan, melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan melalui ”universalia” (konsep-konsep umum). Dan ini jelas berbeda dengan pemikiran Plato, yakni dunia ide, melainkan sebagai pikiran, perasaan, dan perbuatan yang khas bagi seorang manusia. Itulah sebabnya mengapa Aristoteles menilai sastra lebih tinggi dari pada penulisan sejarah.
Konsep mimesis dan creatio ini berimplikasi besar pada perkembangan sastra di era setelahnya. Sehingga kemudian memunculkan pendekatan mimesis dan ekspresif. Pendekatan mimesis membawa pembaca lebih menitik beratkan pada kenyataan, sedangkan ekspresif berpusat pada pengarang selaku pencipta.
Senin, 12 April 2010
Sebuah Catatan Tak Rampung
Kita berdiri di bangsa ini dengan berpongah ria, seakan hidup hanya untuk menikmati saja. Sejarah tak mengajari kita untuk menjadi pribadi yang elegan. Sejarah malah membentuk kita menjadi manusia robot yang bervisi ke depan. Meninggalkan sejarah yang diusahakan oleh pendahulu kita. Baiklah kita anggap diri ini menjadi bagian dari Indonesia. Meski saya yakin, keindonesiaan macam apa tak pernah ada yang menyangsikan, mempertanyakan, atau menggugat. Karena kita tahu bahwa kita adalah bangsa Indonesia. Konon yang melebar dari sabang-merauke. Itulah Indonesia yang menjadi doktrin kita.
Membaca "Anak Semua Bangsa", roman Pramoedya, membuka mataku akan sebuah suasana yang benar-benar asing. Ternyata kita mempunyai rumpun panjang yang belum banyak disibak ke permukaan. Kita begitu fasih jika ditanya berapa tahunkah Belanda mencengkram Ibu pertiwi. Sejarah kita mengajarkan juga bagaimana penderitaan yang tak bisa lagi diungkap dengan kata. Tetapi ada banyak hal yang membuat kita lebih asyik bermain dengan keasyikan sendiri. Mematah-matah garis kehidupan yang harusnya digali untuk membentuk karakter berbangsa. Bukankah sejarah itu sebuah memori? Sebuah masa silam yang tak berelevansi lagi?
Karya Pram (Aku baru baca Bumi manusia, Anak Semua bangsa, Gadis Pantai), telah memaparkan kepadaku bahwa kau sebenarnya tak tahu apa-apa. Tak ada yang harus kubanggakan dari yang selama ini kuketahui. Karena banyak hal yang tak kukutahui, sehingga mau tak mau aku harus mencari itu. Menyelam ke dasar laut untuk membuktikan bahwa laut itu dalam atau dangkal.
Minggu, 28 Maret 2010
Malu....
sesuram itukah sore itu?
menjelang kelelawar bersiap mencari jati diri, tubuh ini mengecil. bersembunyi dari semburat senja yang menghampar.
entahlah, perjalanan wakttu tak mempedulikanku.
aku enggan keluar menjelang pertemuan waktu. aku malu pada mereka. aku malu pada kelelawar.
lihat tubuhku. banyak hal yang merajut dalam sayap-saya yang hampir memudar.
kapan kuakhiri ini, aku tak tahu. aku malu pada mereka. malu pada kelelawar.
Jumat, 18 Desember 2009
Lelaki Tua dan Laut
Judul : Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea)
Pengarang : Ernest Hemingway
Penerjemah : Yuni Kristianingsih P.
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Kota terbit : Jakarta
Tahun/cet. : 2009/2
Jumlah hal. : 138
Ukuran : 21 cm; 15 cm
Lelaki Tua dan Laut merupakan novel terakhir pengarang legenda
ris Amerika, E. Hemingway, yang mengantarnya meraih nobel sastra pa
da tahun 1953. Sampai kini, karya terbesar mantan tentara ini telah di
cetak ke berbagai bahasa di belahan dunia. Sehingga masuk kategori
sastra klasik sekaligus diakui sebagai warian sastra dunia.
Novel ini mengisahkan kegigihan lelaki tua ketika berburu ikan di
alutan lepas. Menggunakan latar tempat di Kuba, Pelaut tua memutuskan
berangkat seorang diri ke laut pada hari ke-85. Teman berburunya, bocah
kecil, yang juga sahabatnya tidak turut serta. Padahal sebelumnya, selama
84 hari mereka bekerja sama melaut. Tampaknya, sahabat kecil itu putus
asa, sebab hasilnya mengecewakan.
Pelaut Tua itu akhirnya berlayar sendiri ke tengah laut lepas. Dengan
berbekal semangat dan optimisme, tubuh ringkihnya tidak membuat ia
gentar. Banyak peristiwa-peristiwa menegangkan dan mencengangkan
dialaminya, termasuk sekawanan hiu mencecar Ikan Marlin yang terperangkap dalam jalanya. Terkadang rasa gentar dan was-was itu muncul ketika disadarinya sendirian di tengah laut lepas sendirian tanpa kawan. Tetapi berkat semangat, kerja keras dan pantang menyerah, semuanya menjadi mungkin.
Secara alur, novel ini bisa dibilang sederhana. Namun, peristiwa yang terjalin di dalamnya cukup memukau. Kelebihan Lelaki Tua dan Laut terletak pada penggambaran konflik batin yang dihadapinya. Optimisme melawan pesimisme, kekuatan melawan ketidak berdayaan, dan kesabaran dengan keputusasaan saling menjegal dan mengalahkan.
Kata-kata terbaik sekaligus menjadi filosOfis tokoh utama yakni MANUSIA BISA DIHANCURKAN TAPI TIDAK BISA DIKALAHKAN. Pada kondisi terjepit, ketika hiu galanus menyerang perahunya. Dengan sekuat tenaga ia menghujamkan pisau kecilnya pada kepala hiu. Dan itu berkali-kali dilakukannya tanpa rasa gentar. Dari sinilah kita bisa meniru semangat tempur Lelaki tua ini pada situasi segenting apapun. Novel ini sisi penguat motivasi tidak kalah dibanding buku-buku motivasi di pasaran. Bila ini terlalu hiperbola, lebih baik kita membaca kemudian membandingkannya.
Tidak ada gading yang tak retak, begitulah pepatah menggambarkan jika di dunia tak ada yang sempurna. Bila konflik batin tergarap serius, konflik fisik tidak begitu. nampak sekali adegan-adegan fisik yang kurang kuat penggambarannya. Ini bisa kita simak pada pertarungannya dengan hiu. Begitu gampang lelaki tua tersebut membunuh hiu. Kesederhanaan ini justru menimbulkan pertanyaan, apakah pengarang mengerti dengan yang diceritakannya? Namun begitu, clah ini bisa ditutupi dengan kepiawaiannya membangun karakter tokoh utama.
Pada akhirnya harus kita akui jika karya hemingway ini bukan sekedar novel. Sikap hidup yang menjadi filosofi tokoh utama memiliki niali-nilai tak terukur di kehidupan nyata. Hemingway tidak sekedar bercerita, tapi dia mengendapkan kekuatan untuk bertahan dan terus mencecar sehingga mengkristal dalam karakter okoh utamanya.